Pada saat ini, tayangan di televisi masih menjadi sebuah
hiburan yang paling diminati dan paling gampang didapat masyarakat kalangan
bawah dan menengah. Seluruh stasiun tv antusias berlomba-lomba memberikan sebuah
tayangan kepada masyarakat. Sebuah peluang bisnis yang bagus, karena itu berbagai
macam trik terus dikembangkan untuk menarik perhatian dari penonton, mulai dari
sinetron, talk show dan beragam program tv bergantian ditayangkan. Sudah bertahun
tahun televisi sudah menjadi teman masyarakat dan belakangan ini, tv mengalami banyak
keanehan yang terjadi. Keanehan yang terjadi ialah karena bisnis.
Berbagai trik bisnis dilakukan sebuah channel demi bisnis
dengan menjual produk tidak baik, mereka lebih mementingkan kuantitas daripada
kualitas. Ide kreatif yang harusnya menjadi tolak ukur di setiap tayangan tv
tidak lagi menjadi unsur tujuan utama. Sinetron dengan ratusan episodepun
tumbuh sangat subur, bahkan lebih subur dari sebuah tayangan di televisi yang
memberikan sebuah lmotivasi, edukasi, dan eksploitasi terjadi ber-ulang kali. Melihat
kacaunya dunia pertelevisian di indonesia saat ini merupakan salah satu strategi
eksploitasi yang mungkin biasa digunakan ialah dengan menyediakan uang jutaan
rupiah sebagai imbal balik dari kompetisi yang pesertanya adalah ber-notaben orang
dengan ekonomi lemah, dibalik itu berbagai tayangan tv terkait, bisa meraih
keuntungannya puluhan atau bahkan ratusan juta rupiah.
Selain dari sebuah kompetisi, ada juga talk show yang
menyebut bahwa mereka adalah sebuah wadah untuk membahas dan menyelesaikan sebuah
masalah dari orang yang diundang diacara tersebut, yang tidak tahu kenapa
terlihat sangat tidak natural, dan menjadi sebuah salah satu tayangan yang
mungkin sering ditonton, karena masalah yang sering dibahas adalah masalah percintaan.
Terlepas dari sebuah masalah setingan atau tidak, yang menjadi beban pikiran
ialah apa yang sebenarnya dipikirkan orang-orang ini? Kenapa konsep harus
tayangan yang “mengumbar aib seseorng”. Apakah tayangan tersebut pantas tayang
duii tv nasional ? Jawabannya, sudah pasti demi mencakup rating yang bagus dan
sebuah uang.
Di dunia pertelevisian khususnya di indonesia, tayangan talk
show dan kompetisi sudah menjadi kewajiban tontonan masyarakat, bersama dengan tayangan
sinetron ataupun kartun. Tapi dalam akhir-akhir ini, KPI melarang tayang kartun
di tv. Karena dianggap menampilkan adegan dengan unsur kekerasan, padahal
kartun adalah bagian dari dunia yang tak terlepas bagi anak-anak ataupun orang
dewasa. Dunia anak-anak ialah tempat bermain dan menonton kartun, lalu
berdasarkan dari sebuah pengalaman yang ada, banyak mantan anak-anak berbuat
tindak kekerasan, karenaa meniru sebuah adegan di kartun yang persentasenya
kecil.
Dilihat dari tmbuh kembangnya. Dan cara berpikir anak-anak
tidak hanya terkonsentrasi pada pengaruhi dari sebuah tayangan kartun. Adapun faktor
lingkungan yang juga turut berpengaruh, oleh karena itu pengawasan orang tua kepada
anak-anak perlu menjadi tindakan yang serius perlu dilakukan. Dengan melarang
menonton kartun yang ditayangkan yang bersamaan dengan acara talk show, yang
bernotaben “umbar aib seseorang” dan sinetron yang makin tumbuh subur, dunia
pertelevisian sangat terlihat seakan-akan tidak ingin mencerdaskan masyarakat
yang menontonnya. Lalu pada sebuah keadaan yang mengacaukan seperti ini, tv
nasional sering menayangkan tayangan dengan tidak jelasnya. Membuat sensor pada
sebuah tayangannya, kemudian bisa menjadi bahan omongan banyak orang. Pernah
saat itu, sekali waktu ada tayangan tv yang menyensor sebuah puting susu sapi,
kareba pada adegan perah susu sapi. Selain itu, stasiun tv sering menayang
berbagai film aksi tapi menyensor adegan aksi film tersebut. Sangat kacau, melihat
semua yang terjadi saat ini singkat kata dunia pertelevisian indonesia sekarang
pada saat ini sedang kacau dan tidaak jelas.
Komisi Pertelevisian Indonesia atau (KPI), dan Lembaga
Rating bersama sinetron dan reality show mungkin sudah berteman semakin akrab,
sampai lupa, bahwa dalam mencerdaskan masyarakat. Peran mereka sangat penting
dan dibutuhkan. Melihat semua keadaan yang terjadi di sana, pihak-pihak yang “dipercaya”
mengawasi dunia pertelevisian indonesia terus dikritik. Perkembangan di-dunia
pertelevisian indonesia yang sangat cendrung minim ide kreatif ini akan
bertahan sampai kapan ? Kita semua selalu memiliki sebuah harapan bagi
pertelevisian di indonesia menjadi negara maju. Dalam kurun waktu yang lama ini,
semoga para anak bangsa yang kreatif bisa saling bantu daan menppang, dengan
kerja sama yang baik, semoga kita bisa membuat perubahan yang lebiih baik dalam
mencerdaaskan kehidupan bangsa.